Timika (KADATE) – Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) saat ini berada dalam situasi yang tidak menentu akibat dualisme kepemimpinan yang terjadi di tingkat pusat.
Dalam rilis yang diterima media ini, Faya Naa, Emus Kogoya dan Andreas Lemauk, anggota DPD KAPP Mimika menilai dualisme kepemimpinan KAPP menimbulkan perpecahan, dan ini semakin menimbulkan ketidakpastian bagi para pengusaha Papua, khususnya di daerah, termasuk kabupaten Mimika, provinsi Papua Tengah.

“Seperti yang diketahui, KAPP induk Papua kini terbagi menjadi dua kepemimpinan, yakni: Goldfild Wolter Baransano, hasil Konferensi Luar Biasa (Konfersus) di Biak, Papua dan Musa Haluk, hasil Konferensi Pusat (Konferpus) di Wamena, Papua Pegunungan,”kata Faya Naa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, ketidakjelasan arah organisasi di tingkat pusat berdampak langsung pada pengambilan kebijakan di daerah, terutama terkait kepengurusan KAPP kabupaten Mimika.
Sikap BPW-KAPP Papua Tengah Dipertanyakan
Dikatakan bahwa Badan Pengurus Wilayah (BPW) KAPP Papua Tengah yang diketuai oleh Vince Mofu dinilai tidak tegas dalam menyikapi permasalahan ini. Terlebih lagi, ada ketidakkonsistenan dalam keputusan yang telah dibuat.
“Dalam Pakta Integritas dan pernyataan resmi Ketua Umum BPP-KAPP Goldfild Baransano, telah ditegaskan bahwa tidak ada SK Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KAPP di Kabupaten Mimika untuk tiga bulan ke depan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan keputusan yang bertolak belakang, “ungkapnya.
Untuk itu, kata Faya bahwa sikap yang tidak tegas dan keputusan yang berubah-ubah ini semakin memperburuk kondisi organisasi. “Jika tidak segera diselesaikan, hal ini berpotensi mengganggu stabilitas para pengusaha asli Papua di daerah, menciptakan konflik internal, dan bahkan mengganggu jalannya pemerintahan, ” katanya.
Menolak rencana Konferda dalam Waktu Dekat
“Kami, anggota aktif BPD-KAPP Mimika, dengan tegas menolak rencana Konferensi Daerah (Konferda) dalam waktu dekat. Dengan kondisi kepemimpinan yang masih belum stabil, penyelenggaraan Konferda hanya akan semakin memperdalam perpecahan di antara pengusaha Orang Asli Papua.
Kami mempertanyakan kepada Ketua BPP-KAPP Goldfild Baransano dan Ketua BPW-KAPP Papua Tengah Vince Mofu: Apakah kepemimpinan kalian akan membawa perubahan nyata bagi pengusaha Papua, atau justru hanya akan semakin menciptakan perpecahan di antara kita?” kata Faya.
KAPP Papua tidak boleh dibiarkan dalam kondisi yang tidak kondusif.
“Kami mendesak pimpinan KAPP untuk segera mengambil langkah konkret guna menyelesaikan konflik dualisme kepemimpinan ini.Sehingga organisasi dapat kembali fokus pada pemberdayaan pengusaha adat Papua, bukan justru menjadi sumber perpecahan,” tandasnya. (dmd)