Manokwari (KADATE) – “Saya sangat bersukacita kalau ada anak-anak 7 suku dari Kabupaten Teluk Bintuni atau anak anak dari Provinsi Papua Barat , terutama perempuan, yang mau datang bersama saya, torang sekolah di sini di Inggris atau di negara lain,” ujar Ruth Inanosa.
Ruth Inanosa adalah mahasiswi asal kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, saat ini tengah menempuh pendidikan di Newcastle University, Inggris, di jurusan Business Marketing and Management.
Dalam sebuah wawancara dengan media ini, Ruth menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan atas ijinnya sehingga diberikan kesehatan dan dapat berkesempatan kuliah S1 di Newcastle University. “Puji Tuhan bulan juli 2025 nanti akan diwisuda, mohon doa.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, Ruth Inanosa tercatat sebagai salah satu dari 28.796 orang (mahasiswa sarjana 21.946 orang, 6.849 orang pasca sarjana) memiliki prestasi akademik yang baik dengan IPK di atas 3,3 (skala 4) dan tengah mempersiapkan diri untuk menyelesaikan studi S1 pada Juli 2025.
Ruth juga berharap dapat langsung melanjutkan ke jenjang S2. “Saya telah dinyatakan diterima pada jenjang S2 (conditional) New Castle University tahun 2025 dan meminta dukungan doa agar cita-citanya tersebut dapat terwujud” ungkap Ruth, anak dari Benyamin Inanosa.
Sedikit tentang Newcastle University, tempat Ruth menimba ilmu, adalah salah satu universitas terkemuka dunia yang menempati peringkat ke-129 secara global menurut QS World Rank Universities 2025.
Universitas ini juga merupakan anggota dari Russell Group, sebuah kelompok universitas riset terkemuka di Inggris. yang berkuliah pada universitas tersebut.
Dalam pesannya kepada generasi muda Papua Barat yang ingin kuliah ke luar negeri, Ruth menekankan pentingnya kesiapan mental, kemauan beradaptasi, meningkatkan rasa ingin tahu, serta membiasakan diri untuk belajar secara mandiri.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kemampuan bahasa Inggris dengan standar minimal IELTS 6.0 dan menjaga kesehatan sebagai bekal utama.
Mengenai biaya pendidikan yang dapat mencapai lebih dari Rp. 650 juta per tahun, Ruth mengakui bahwa biaya tersebut cukup besar. Namun, ia menegaskan bahwa saat ini tersedia banyak beasiswa potensial, termasuk dari pemerintah daerah.
Ruth bersyukur atas dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat yang telah membantunya dalam menempuh pendidikan di Inggris.
Ia secara khusus mengucapkan, “terima kasih kepada Ibu Yanti Kamad dari Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat atas perhatian dan dukungan yang diberikan, serta mendoakan kesehatan bagi seluruh staf dinas pendidikan serta Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat. Juga ucapan yang sama untuk Bapak Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Teluk Bintuni”.
Mengakhiri wawancaranya, Ruth mengajak calon lulusan SMA dari Papua Barat, secara khusus dari Kabupaten Teluk Bintuni, untuk menyiapkan diri dan memanfaatkan kesempatan kuliah ke luar negeri.
“Peluang itu ada, yang penting kita siapkan diri dengan baik dan berani mengambil langkah,” pungkasnya. [ENOS]