Memaknai hari lingkungan hidup bagi masyarakat di distrik Taroi Teluk Bintuni

Selasa, 8 Juni 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh, Benny Inanosa

“Kami tidak takut musim ombak dan angin lagi sekarang, setelah mangi mangi yang ditanam di depan kampung tumbuh dan menjadi pelindung bagi pantai. Setelah ada mangi mangi, ibu ibu dapat memancing ikan di jembatan, dan hasilnya cukup untuk makan sehari hari. Tidak seperti dulu sebelum ada mangi mangi,” ungkap Rajab Sorowat, Pegiat Mangrove.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Nurdin Bauw mengatakan, “Kampung Taroi ini sudah pindah 8 kali akibat abrasi, sehingga kami mendukung inisiatif yang diambil oleh Bapak Rajab dalam penghijauan di pesisi pantai dekat jetty. Saya juga merasa terpanggil dan bertanggung jawab atas keamanan kampung dan keselamatan masyarakat kampung, dan mungkin ini pergeseran kampung merupakan bagian dari teguran nenek moyang orang Taroi” sehingga kita perlu jaga hutan mangrove yang ada.

Kilas balik suksesnya rehabilitasi mangrove di daerah Taroi dengan mengkedepankan partisipasi masyarakat Adat, diawali dengan rasa prihatin atas abrasi yang terjadi di sepanjang pantai taroi dan ketidak nyamanan masyarakat jika musim ombak dan angin, atas inisiatif Pemerintah daerah Teluk Bintuni tahun 2005 dilakukan penanaman 2 ha Mangrove yang dimotori oleh Bapak Rajab Sorowat.

Penanaman ini tidak berhasil baik karena bibit yang digunakan merupakan cabutan alam yang didominasi mangi mangi akar panjang (Rhizopra, spp) sudah semai yang ditanam sudah tumbuh tinggi diatas 75 cm, bahkan ada yang mencapai diameter lebih dari 1,5 cm.

Kegiatan penanaman dilakukan oleh seluruh warga masyarakat, dengan satu visi : “Mangrove harus tumbuh supaya dapat melindungi Kampung”. Tahun 2006, disponsori oleh BP Tangguh, dengan menyulam, warga masyarakat ikut berpartisipasi, dalam penanaman dan program penamanan dilanjutkan lagi pada tahun 2007.

Disini tingkat keberhasilan mulai mencapai kurang dari 15 %. Bibit dari alam, diameter tidak lebih dari 0,5 cm. Selanjutnya disponsosi Dinas Kehutanan penanaman dilakukan pada tahun 2008. Keberhasilan mencapai diatas 20 %.

Kegiatan penanaman dan penyulaman dilakukan berulang dari tahun 2010 – 2020 melibatkan mitra pemerintah, baik BP Tangguh maupun individu dan pemerintah daerah sendiri menyebabkan saat ini lebih dari 20 Ha area tersebut sudah ditutupi mangrove yang di dominasi oleh mangi mangi putih (Avicenia eucaliptifolia).

Tingkat keberhasilan penanaman diatas tahun 2010 menjadi lebih baik karena masyarakat sudah belajar dari kegagalan di tahun sebelumnya. Beberapa perbaikan: jenis yang ditanam adalah mangi mangi putih saja, bibit yang ditanam bibit yang disemai.

Pola penanaman memperhatikan hidrologi (menghindari ombak dan angin serta pasang tinggi), mendapat penyuluhan yang teratur dari Pendamping perusahaan maupun Disnas Kehutanan. Sayangnya keberhasilan ini belum ditunjang dengan adanya kelompok binaan yang dibentuk secara formal dengan mendapat nomor registrasi seperti kelompok Tani Hutan.

Sebagai apresiasi atas ketokohan dalam melakukan rehabilitasi hutan Mangrove ini, akhir tahun 2020 Bapak Rajab Sorowat mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat sebagai Pegiat Mangrove yang sudah teruji kinerjanya. Diserahkan langsung oleh Bapak Gubernur Papua Barat.

Dukungan berbagai pihak terhadap partisipasi masyarakat terutama adanya kelembagaan formal guna mengorganisir kegiatan termasuk penggalangan sponsor. Serta adanya pelibatan lembaga Universitas dalam kajian dan penyiapan informasi maupun kelompok Pemuda dalam pengelolaan kawasan Teluk Bintuni sebagai Rumah bagi upaya perlindungan mangrove perlu bersinergi.

Koordinator Sahabat Mangrove Teluk Bintuni, Niko Leftungun, S.Hut., M.Ling menyambut proses pembelajaran tentang partisipasi masyarakat Sebyar di Taroi. Arahan beliau “potensi Distrik Taroi ini akan dimasuk dalam salah satu SPOT EKOWISTA Mangrove – Sebyar Back Bone”, termasuk pengembangan kreatifitas dalam pembuatan kain rumput oleh Ibu Ibu melalui Kelompok “Ramunu” [***]

Berita Terkait

Dualisme kepengurusan KAPP Papua: Menjaga marwah atau menciptakan perpecahan?
Inspirasi dari Inggris: Ruth Inanosa ajak generasi muda Papua Barat raih mimpi kuliah ke luar negeri
Bupati Yohanis Manibuy – wakil Bupati Joko Lingara disambut meriah di negeri “sisar matiti”
Pilkada 2024, Kapolres AKBP Choirudin Wahid: situasi aman dan kondusif, Bintuni keluar dari “zona merah”
Terkait kesejahteraan Guru, Henry Kapuangan: “akan ada tambahan penghasil, setelah terbit Perbup”
Polres – Bhayangkari Teluk Bintuni hadirkan program pekarangan pangan lestari, “melepas bibit ikan lele di kolam”
Siswa SMKN 1 Bintuni ikut sertifikasi kompetensi, Henry Kapuangan harapkan yang terbaik
Kirim 2 guru ke SD Obo Distrik Kuri, Henry Kapuangan: “Saya janjikan satu bulan, ternyata 2 minggu sudah bisa”

Berita Terkait

Kamis, 3 April 2025 - 04:06

Dualisme kepengurusan KAPP Papua: Menjaga marwah atau menciptakan perpecahan?

Minggu, 30 Maret 2025 - 19:38

Inspirasi dari Inggris: Ruth Inanosa ajak generasi muda Papua Barat raih mimpi kuliah ke luar negeri

Selasa, 4 Maret 2025 - 11:33

Bupati Yohanis Manibuy – wakil Bupati Joko Lingara disambut meriah di negeri “sisar matiti”

Senin, 24 Februari 2025 - 16:03

Pilkada 2024, Kapolres AKBP Choirudin Wahid: situasi aman dan kondusif, Bintuni keluar dari “zona merah”

Senin, 24 Februari 2025 - 15:52

Terkait kesejahteraan Guru, Henry Kapuangan: “akan ada tambahan penghasil, setelah terbit Perbup”

Senin, 24 Februari 2025 - 15:23

Polres – Bhayangkari Teluk Bintuni hadirkan program pekarangan pangan lestari, “melepas bibit ikan lele di kolam”

Senin, 24 Februari 2025 - 14:58

Siswa SMKN 1 Bintuni ikut sertifikasi kompetensi, Henry Kapuangan harapkan yang terbaik

Kamis, 20 Februari 2025 - 22:58

Kirim 2 guru ke SD Obo Distrik Kuri, Henry Kapuangan: “Saya janjikan satu bulan, ternyata 2 minggu sudah bisa”

Berita Terbaru