Oleh: Fren Lutruntuhluy, S.Pd *)
Konstelasi politik di Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat bakal berbalik arah ke pemimpin yang baru. Salah satu alasannya karena ada kejenuhan politik dan luapan ekspresi penyesalan rakyat atas apa yang terjadi di negeri berjulukan “Sisar Matiti” itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu bukti nyata yang dipertontonkan publik Bintuni adalah ketika pasangan Ali Ibrahim Bauw dan Yohanis Manibuy tanpa sebuah perencanaan yang matang, ratusan rakyat Bintuni menjemput mereka, bernari-nari dan berdendang seraya mengungkapkan rasa cinta mereka atas perubahan yang harus terjadi di Bintuni. Kemacetan terjadi di hampir seluruh ruas jalan.
Saya menangkap esensi politik saat itu, dalam pengertian bahwa selama ini ekonomi rakyat disebut terbengkalai, kesenjangan antara miskin dan kaya terus melebar di kabupaten dengan APBD hingga mencapai 2T lebih pada tahun 2020 itu. Artinya memang kerinduan mempersatukan dan memperbaiki itu sangat kuat.
Bayangkan kalau viralnya berita kedatangan dua pasangan begitu menghebohkan padahal yang dibawah Ali Ibrahim Bauw dan Yohanis Manibuy baru sebatas rekomendasi partai politik saja.
Beberapa hal prinsip yang saya nilai pada strategi politik partai koalisi yang mengusung dua kandidat ini adalah pertama, mereka mampu merubah tatanan politik dengan memasang saudara mereka yang berbeda keyaninan. Hal itu tidak lain adalah untuk menjawab keinginan melakukan perubahan. Bukan hal yang lainnya.
Kedua, tim ini cukup kuat dalam melakukan penetrasi opini di publik dengan kekuatan media disertai tim analisis yang terus mengira kecenderungan politik Kabupaten Teluk Bintuni.
Ketiga, Partai koalisi yang mengusung paket ini berani beradu kekuatan meskipun mereka menyadari kekuatan politik nasional tidak ada pada mereka. Hanya saja, riwayat politik Bintuni kadang sulit diprediksi meskipun banyak anggapan petahana memiliki struktur politik yang lebih memungkinkan. Faktanya di Bintuni banyak uang tidak menjamin, miliki kekuasaanpun pernah kalah dalam politik. Itu sebabnya partai koalisi punya nyali seribu menghadapi lawan meskipun datang dengan kendaraan yang besar.
Saya juga menangkap hal istimewa dalam diri Ali Ibrahim Bauw dan Yohanis Manibuy. Dua orang ini mungkin terbawa dengan karakter bawaan yang paling mudah berbaur tanpa pandang bulu. Dari mana, dan asal mana dan agama apa itu tidak penting bagi dua orang ini selain menginginkan adanya persatuan dan toleransi yang lebih baik.
*). Pemerhati Sosial Politik tinggal di Jakarta