Oleh: Minarsih Maria Sambo *)
Akhir-akhir ini dunia sedang ramai disibukkan dengan adanya virus baru yang melandah dan juga melumpuhkan berbagai sektor penting seperti Kesehatan, Pendidikan, hingga Perekonomian dunia.
Penyebarannya sangat cepat, belum ada setahun bahkan setengah tahun pun belum cukup namun penyebarannya sudah mencapai 212 negara. Di berbagai teritorial diseluruh dunia dengan kasus terinfeksi ratusan juta dan jumlah kasus kematian mencapai ratusan ribu jiwa manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh World Health Organization (WHO), virus tersebut diberi nama Severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV-2), sedangkan penyakitnya disebut Coronavirus disease 2019 atau yang akrab di sebuat (COVID-19) (WHO,2020).
Awal mulanya virus ini terkonfirmasi pada akhir tahun 2019, di Wuhan, China. Penularan Virus tersebut awalnya secara zoonosis atau yang dikenal penularan penyakit dari hewan ke manusia. Kemudian penularan berlanjut dari manusia ke manusia lainnya.
Umumnya, gejalah yang ditimbulkan dari COVID-19 ini mirip dengan gejalah flu biasa hingga gejalah yang kronis bahkan sampai merenggut nyawa. Banyak upaya yang terus dilakukan agar dapat menekan jumlah kasus terinfeksi COVID-19, namun kasusnya terus bertambah.
Salah satunya, kasus yang terus bertambah terjadi di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Update jumlah kasus yang terkonfirmasi pada 16 Mei 2020 oleh Satgas Pencegahan COVID-19 di Teluk Bintuni terdapat sebanyak 21 orang dinyatakan positif dari hasil tes RAPID dan juga PCR, orang tanpa gejala (OTG) 200 orang, orang dalam pengawasan (ODP) 5 orang, dan pasien dalam pengawawan (PDP) 2 orang.
Belum ada kabar kesembuhan dari pasien positif, namun kondisinya semakin membaik selama masa karantina.
Mekanisme penularan COVID-19 seharusnya sudah banyak diketahui oleh masyarakat, sudah cukup banyak edukasi, dan himbauan dari pemerintah serta poster-poster yang cukup menjelaskan bahwa penularan COVID-19 ini dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan orang yang telah terinfeksi COVID-19.
Kontak langsung seperti apa yang dimaksud? yaitu dimana kita berjumpa dengan satu atau banyak orang lalu berbicara dengan mereka tanpa kita sadari ada percikan-percikan air liur yang keluar dari mulut masing-masing orang lalu ditambah saat orang tersebut batuk ataupun bersin banyak percikan air liur yang menyebar dan menempel pada bagian tubuh kita bahkan bisa langsung kita hirup apabila kita berada pada jarak yang dekat dengan orang tersebut. Percikan air liur tersebut dikenal dengan sebutan droplet.
Selain itu tangan juga menjadi salah satu organ tubuh yang dapat menularkan COVID-19, dimana tangan kita memegang benda-benda ditempat umum yang tanpa kita sadari benda-benda tersebut telah menempel droplet dari seorang yang terinfeksi COVID-19. Setelah itu tangan akan reflex untuk memegang organ tubuh lain seperti mata, hidung dan mulut. Ketiga organ ini merupakan gerbang masuknya COVID-19 kedalam tubuh kita.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus Corona mampu bertahan di udara dan menyesuaikan kondisi lingkungannya, namun belum menyatakan secara pasti kalau penularan COVID-19 dapat melalui udara.
Gejalah umum yang dapat terlihat dari pasien positif COVID-19 seperti demam tinggi dengan suhu lebih dari 38oC, batuk-batuk, badan terasa lelah, serta sesak nafas ringan dalam jangka waktu inkubasi kurang lebih 14 hari. Namun dalam kondisi lainnya gejalah-gejalah tersebut dapat berkembang menjadi gejalah yang lebih serius, terutama pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti gagal ginjal, jantung, diabetes, asma, dan penyakit bawaan lainnya.
Semua kalangan dapat beresiko terinfeksi COVID-19, baik muda ataupun tua laki-laki maupun perempuan semua dapat terinfeksi COVID-19. Maka jangan anggap sepeleh pandemi ini.
Ada beberapa golongan orang yang tingkat resiko terinfeksi COVID-19 cukup besar yaitu golongan orang tua lanjut usia dan juga orang-orang dengan riwayat penyakit bawaaan. Virus ini pada dasarnya akan menyebabkan masalah pernafasan akut, yang akan bertahan dalam beberapa minggu, dan akan kembali membaik dengan bantuan imun tubuh kita sendiri.
Tetapi sebaliknya akan semakin memburuk apabila imun tubuh kita tidak mampu mendeteksi dan menyembuhkan serangan virus tersebut, biasanya hal ini terjadi pada golongan orangtua lanjut usia, hal ini disebabkan karena daya tahan tubuh (antibody) yang sudah tidak stabil lagi dan di dukung komplikasi penyakit bawaan yang biasanya terjadi pada orangtua.
Selain orang tua lanjut usia, hal yang sama juga dapat terjadi pada golongan orang dengan usia yang lebih muda. Hal dapat terjadi karena adanya penyakit bawaan seperti asma, gagal ginjal, jantung, dll yang pada dasarnya akan membuat imun tubuh menurun dan akan menjadi komplikasi antara penyakit bawaan dengan virus Corona yang terinfeksi didalam tubuh. Hal seperti ini yang sangat beresiko tinggi hingga menyebabkan kematian.
Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan kita semua beresiko terinfeksi COVID-19, dengan berbagai macam variasi mulai dari sistem imun sedang menurun bahkan tidak stabil, ataupun memiliki penyakit bawaan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Maka dari ikut kewaspadaan dan juga kepatuhan terhadap aturan sangatlah berperan penting.
Banyak cara yang sudah dilakukan Pemerintah daerah Teluk Bintuni agar dapat menekan jumlah kasus positif, sudah banyak edukasi dan himbauan. Salah satu contohnya pemberlakuan aktifitas jual beli di pasar sentral Teluk Bintuni yang merupakan suatu sarana yang mengumpulkan berbagai macam orang untuk berbelanja kebutuhan pokok dll hanya diperbolehkan beraktivitas hingga pukul 13.00 WIT atau jam 1 siang.
Aktifitas jual beli di pinggiran jalan, warung hingga pertokoan beraktivitas hanya sampai jam 8.00 malam. Selalu ada himbauan keliling yang dilakukan oleh Pemerintah daerah Teluk Bintuni dengan tujuan agar masyarakat mengerti bahwa virus ini berbahaya bukan hanya di Teluk Bintuni tetapi berbahaya untuk seluruh dunia.
Sampai saat ini, peneliti dunia belum mengeluarkan vaksin yang tepat untuk mengatasi COVID-19, masih perlu tahapan yang panjang untuk dapat mengeluarkan vaksin untuk suatu virus. Penanganan yang saat ini paling ampuh adalah dengan mendengar aturan pemerintah dengan tetap tinggal dirumah saja.
Jika ada hal yang mendesak agar keluar rumah usahakan pakai masker kemana saja kita pergi, usahakan jaga jarak dengan orang 1-2 meter, cuci tangan dengan air mengalir, bila tidak memungkinkan mencuci tangan dengan air mengalir gunakan hand sanitizer. Dan jangan menyentuh mata, hidung dan mulut karena ketiga organ tubuh ini merupakan pintu masuknya COVID-19 kedalam tubuh kita.
Mari sudah, jangan kepala batu, jangan bikin diri masa bodoh. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat.
Pemerintah dan masyarakat perlu bahu-membahu agar mampu mengatasi COVID-19 di Teluk Bintuni ini. Cukup dengan patuhi arahan pemerintah dengar himbauan yang diberikan kita sudah sama-sama mendukung dalam mengantasi COVID-19 di Kabupaten Teluk Bintuni tercinta ini.
KITA SEMUA BISA LAWAN CORONA KALAU KITA DENGAR HIMBAUAN, STOP BIKIN KEPALA BATU, STOP BIKIN TELINGA TULI. KALAU KO MAU SAKIT SENDIRI TIDAK APA, TAPI KALAU KO TULARKAN KE ORANG LAIN STOP SUDAH.
Stay Healthy
*). Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW
Yogyakarta