MANOKWARI | kadatebintuni.com ~ Untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Regional VI Jayapura menyelenggarakan Diklat Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Familly Developmen Session Program Keluarga Harapan ( PKH) E-Learning Angkatan XXXIV tahun 2019 di salah satu hotel di Manokwari, Papua Barat.
Kegiatan yang di selenggarakan ini di hadiri kepala Badan Pendidikan Penelitian dan Penyuluhan Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia, Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Regional VI Jayapura, Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Papua Barat, peserta pendamping dari 5 kabupaten di provinsi Papua Barat yaitu Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni dan kabupaten Teluk Wondama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Badan Pendidikan Penelitian dan Penyuluhan Sosial Kemesos RI, Syahabudin yang juga sebagai pemateri, saat di komfirmasi tim kadate, menyampaikan bahwa kegiatan yang di lakukan oleh balai besar pendidikan dan pelatihan kesejahteraan sosial regional VI Jayapura, adalah pertemuan peningkatan kemampuan keluarga atau P2K2, yang di sebut juga FDS yaitu Familly Developmen Session, dan gunanya pelatihan diklat ini adalah untuk meningkatkan sumberdaya manusia para pendamping yang menjalankan tugas dari Program Keluarga Harapan (PKH). Para pendamping PKH yang akan mendampingi ratusan daripada kelompok penerima manfaat KPM dari pada program PKH ini, ungkapnya.
Ia menambahkan, gunanya diklat ini adalah terwujudnya standarisasi sumberdaya manusia dari pada SDM pendamping PKH itu sendiri dan manfaatnya sangat besar. Ketika sebelum dilaksanakan diklat bagi pendamping maka angka kemiskinan mulai drastis, akan tetapi setelah di lakukan diklat yang gunanya adalah pertemuan peningkatan kemampuan keluarga ini sangat luar biasa, secara nasional angka kemiskinan adalah 9,4 %.
Katanya, apabila peningkatan diklat ini dilakukan secara terus menerus dan rencana jumlah pendamping adalah 21.900 SDM PKH, maka bisa menggenjot cita-cita daripada Presiden yang memvisikan SDM unggul INDONESIA maju, itu pasti akan di lakukan tetapi secara perlahan-lahan, oleh sebab itu badiklit Mensos, atau badan pendidikan penelitian dan penyuluan sosial kemensos bekerja sama dengan balai-balai yang ada di regional dan juga dinas sosial provinsi kabupaten kota bersinergi berkolaborasi untuk menurinkan angka kemiskinan.
“Program keluarga harapan merupakan program yang sifatnya nasional dan tahun depan di targetkan kelompok penerima manfaat dari program PKH ini di upayakan oleh pemerintah menjadi 10 juta kelompok penerima manfaat Program Keluarga Harapan. PKH, sedemikian banyakny maka di perlukan pendampingan agar bantuan tersebut tepat sasaran dan menjadikan angka kemiskinan menurun secara nasional namun sebelumnya harus turun secara regional,” katanya.
Untuk menjadin pendamping itu tidak asal mendamping, karena pendamping PKH merupakan mitra Kemensos RI yang mempunyai daya atau potensi SDM yang sangat tinggi, di banding dengan yang lain, oleh sebab itu dari pertama merekrut itu secara baik, dan yang di rekrut secara baik dan tinggi adalah SDM PKH, oleh sebab itu tidak di biarkan begitu saja, dan setiap saat di berikan pelatihan-pelatihan agar ilmu yang di dapat tidak stagna tetapi selalu meningkat demi untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.
Ia juga mengharapkan SDM dari pada program PKH harus mengikuti perkembangan zaman yang di inginkan oleh Presiden yang mendengung-dengungkan Indonesia Maju dengan SDM yang Unggul, dan memang SDM harus unggul tanpa membedakan pulau kalimantan, sulawesi, jawa, sumatra, Papua dan Papua Barat menjadi SDM yang unggul ialah bisa menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. (Dolly)