BINTUNI, kadatebintuni.com ~ Melakukan pertemuan tatap muka bersama Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), pihak Polres Teluk Bintuni mengundang Ormas keagamaan yang berada di Kabupaten ini pada Sabtu (27/10) di salah satu restaurant, di Bintuni.
Pada kesempatan itu, Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Andriano Ananta,SIK, menghimbau, kegiatan seperti ini harus sering di lakukan. “Kegiatan ini dari kita untuk kita. Keragaman, harus bisa di jaga, sehingga dapat menghindari, miss komunikasi, karena tujuan dari semua agama itu, adalah kebaikan. Semua bisa dikoordinasikan, semua bisa di bicarakan, untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang menganggu kestabilan,” ujar Andriano pada agenda yang bertemakan “Menolak Sifat dan Sikap Intoleransi serta Paham Radikalisme dan anti Pancasila” itu.
Hal yang sama juga di utarakan kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Kabupaten Teluk Bintuni, AKBP T. W. Taborat, yang mengatakan bahwa, bermacam upaya merongrong kehidupan bernegara, dan kehidupan beragama, bemuara dari provakator yang memperkeruh suasana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bermacam-macam contoh, yang dapat kita lihat dari kejadian yang menimbulkan konflik, selama ini. Kita dapat memetik pelajaran, agar tidak terjadi di Kabupaten Teluk Bintuni. Pengaruh tokoh Agama menjadi central. Sehingga, dalam kesempatan ini, saya menghimbau agar para tokoh agama, dapat menyampaikan kepada umat dan jamaatnya, kiranya bersama-sama menghindari konflik, dan situasi yang tidak kondusif,” himbaunya pada agenda yang dimulai pukul 20.00 WIT itu.
Menelaah kejadiaan Nasional, yang bersinggungan dengan isu sensitif, beberapa waktu lalu di Jawa Barat, terkait pembakaran Bendera simbol sebuah organisasi, dan sempat menjadi Pro dan Kontra di berbagai kalangan, ketua FKUB, Bahmudin Fimbay, menghimbau agar, tidak tersulut dengan hal sedemikian, terkhusus di Kabupaten Teluk Bintuni.
“Apalagi Kabupaten Teluk Bintuni, memiliki atmosfer yang terbawa dari leluhur bahwa, agama di Bintuni merupakan agama keluarga, sehingga dari dasar kekeluargaan ini, dapat menyadarkan kita, untuk menghindari percikan atau gesekkan yang tidak perlu. Kita harus dapat menjaga dari tiga pilar yang menjadi unsur kerukunan umat, yakni Pemerintah, agama, dan adat, selalu sinkron,” ujar Bahmudin.
Agenda yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi menyamakan presepsi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, yang memicu ketidak kondusifnya situasi itu, melahirkan beberapa kesimpulan, diantaranya akan di bangunnya sebuah group komunikasi untuk saling bertukar informasi dan menjaga silaturrahmi antara umat beragama, terkhususnya di Kabupaten Teluk Bintuni, dan merencanakan agenda pertemuan selanjutnya. [Baim]